Sewaktu nuklir pertama kali dibangun di Rusia banyak korban yang terkena asap berbahaya dari nuklir. Yang tekena kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak di Rusia. Di Indonesia nuklir akan dibangun di Jepara, maka dari itulah di Salatiga dibentuk kelompok Gerakan tolak nuklir atau Geton. Di UKSW sering diadakan diskusi nuklir di Balairung Utama salatiga. Di Rusia sewaktu terkena bom nuklir banyak kerusakan akibat bom nuklir. Para personel geton adalah: Eko, Satria,Wawan, Pasti, Sebleng, Alfa, Mecky, Tyas, Bowo, Laras, Lawang. Mereka menolak PLTN karena jarak pembangunan nuklir terlalu dekat, jaraknya 100 kilometer dari Salatiga.
Para aktivis Geton menolak pembangunan PLTN dikarenakan dampak radiasi yang akan menimbulkan bencana yang tidak hanya disekitar Muria tetapi juga seluruh Indonesia. Bahkan bila abu radiasi itu terbawa oleh angin, bisa mencapai daerah Australia.
Oleh karena itu, para aktivis berpendapat bahwa pembangunan PLTN tidak hanya ditunda tapi harus dibatalkan dikarenakan dampak radiasinya yang sangat berbahaya dan daya sebarnya yang sangat luas apabila terjadi kebocoran pada reaktornya.
Kalau para ahli berpendapat bahwa PLTN sangat ekonomis, mereka tidak berpikir lebih dalam bahwa dampak yang lain perlu diperhitungkan pula seperti radiasi, pencemaran air laut, dan semua nelayan akan rugi. Jika radiasi menyebar ke seluruh dunia semua orang akan menderita. Kita harus membatalkan pembangunan PLTN di Jepara. Dan penemu reaksi nuklir adalah Einstein yang pertama kali membangun reaksi nuklir. Dan sewaktu nuklir ditemukan dan dibangun di Rusia banyak rumah yang rusak dan korbannya termasuk anak-anak. Para aktivis sewaktu festifal mata air memngikuti pameran di stan Partai Demokrat untuk menolak nuklir. Geton akan unjuk rasa di DPRD. Sewaktu demo di Jepara seluruh orang ikut hingga ribuan orang datang mengikuti demo tolak nuklir. Kita tolak PLTN.
Ditulis oleh: Lawang Kembara (aktivis tolak nuklir, umur 9) dan Bowo (aktivis tolak nuklir, 37 tahun)